Rabu, 11 November 2015

Apakah Saudara Memiliki Pandangan seperti Allah terhadap Perkara-Perkara Suci?


Apakah Saudara Memiliki Pandangan seperti Allah terhadap Perkara-Perkara Suci?
”Seraya menjaga dengan cermat . . . agar jangan ada orang yang melakukan percabulan atau yang tidak menghargai perkara-perkara suci.”—IBRANI 12:15, 16.

1. Sikap apa dewasa ini yang ditolak oleh hamba-hamba Allah?
DUNIA pada umumnya semakin tidak memedulikan perkara-perkara suci. Sosiolog asal Prancis Edgar Morin menyatakan, ”Semua fondasi moral—Allah, alam, tanah air, sejarah, nalar—telah kehilangan sifat hakikinya yang mutlak. . . . Orang memilih sendiri nilai-nilai yang ingin dianutnya.” Hal ini mencerminkan ”roh dunia” atau ”roh yang sekarang bekerja dalam diri putra-putra ketidaktaatan”. (1 Korintus 2:12; Efesus 2:2) Orang-orang yang telah membaktikan diri kepada Allah dan rela tunduk kepada kedaulatan-Nya yang benar menolak sikap yang tidak hormat itu. (Roma 12:1, 2) Sebaliknya, hamba-hamba Allah menyadari betapa pentingnya kesucian, atau kekudusan, dalam ibadat mereka kepada Allah. Hal apa saja dalam kehidupan kita yang mesti dipandang suci? Artikel ini akan mengupas lima hal yang kudus bagi semua hamba Allah. Artikel selanjutnya akan berfokus pada kesucian perhimpunan kita. Tetapi, apa sebenarnya arti kata ”kudus”?

2, 3. (a) Bagaimana Alkitab menonjolkan kekudusan Allah? (b) Bagaimana kita menunjukkan bahwa kita memandang nama Allah sebagai sesuatu yang kudus?
2 Dalam bahasa Ibrani Alkitab, kata ”kudus” mengandung gagasan keterpisahan. Dalam ibadat, ”kudus” berlaku atas sesuatu yang dipisahkan dari penggunaan yang biasa, atau dipandang suci. Allah itu kudus dalam pengertian yang absolut. Ia disebut ”Pribadi Yang Mahakudus”. (Amsal 9:10; 30:3) Di Israel kuno, imam besar mengenakan sebuah lempeng emas berukiran kata-kata ”Allah adalah Kudus” yang diikatkan pada serbannya. (Keluaran 28:36, 37) Dalam Alkitab, para kerub dan serafim di sekitar takhta Allah di surga digambarkan menyerukan, ”Kudus, kudus, kuduslah Allah.” (Yesaya 6:2, 3; Penyingkapan 4:6-8) Pengulangan ini menandaskan bahwa Allah itu kudus, bersih, dan murni pada tingkat tertinggi. Malah, Dia adalah Sumber segala kekudusan.

3 Nama Allah itu suci, atau kudus. Sang pemazmur berseru, ”Biarlah mereka menyanjung namamu. Agung dan membangkitkan rasa takut, kuduslah itu.” (Mazmur 99:3) Yesus mengajar kita untuk berdoa, ”Bapak kami yang di surga, biarlah namamu disucikan [atau, ’dikuduskan’, Terjemahan Baru].” (Matius 6:9) Ibu Yesus di bumi, Maria, menyatakan, ”Jiwaku mengagungkan Allah . . . Pribadi yang penuh kuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar bagiku, dan kuduslah namanya.” (Lukas 1:46, 49) Sebagai hamba-hamba Allah, kita memandang nama-Nya sebagai sesuatu yang kudus dan kita menghindari tindakan apa pun yang dapat mencela nama kudus-Nya. Selain itu, kita memiliki pandangan seperti Allah terhadap kesucian, artinya apa pun yang suci di mata Dia adalah hal yang suci juga di mata kita.—Amos 5:14, 15.

Mengapa Kita Sangat Merespek Yesus

4. Mengapa Alkitab menyebut Yesus sebagai ”Yang Kudus”?
4 Sebagai ”satu-satunya putra yang diperanakkan” oleh Allah, yang adalah Allah yang kudus, Yesus diciptakan dalam keadaan kudus. (Yohanes 1:14; Kolose 1:15; Ibrani 1:1-3) Itu sebabnya, ia disebut ”Yang Kudus dari Allah”. (Yohanes 6:69) Ia tetap kudus sewaktu kehidupannya dipindahkan dari surga ke bumi, karena di bawah kuasa roh kuduslah Maria melahirkan Yesus. Seorang malaikat telah memberi tahu dia, ”Roh kudus akan datang ke atasmu . . . apa yang dilahirkan akan disebut kudus, Putra Allah.” (Lukas 1:35) Dalam doa kepada Allah, orang Kristen di Yerusalem dua kali menyebut Putra Allah sebagai ”hambamu yang kudus, Yesus”.—Kisah 4:27, 30.

5. Misi suci apa yang Yesus laksanakan di bumi, dan mengapa darahnya berharga?
5 Yesus mengemban misi suci sewaktu berada di bumi. Ketika dibaptis pada tahun 29 M, Yesus dilantik sebagai Imam Besar atas bait rohani agung milik Allah. (Lukas 3:21, 22; Ibrani 7:26; 8:1, 2) Selain itu, ia harus mati sebagai korban. Darahnya yang dicurahkan menjadi tebusan yang merupakan sarana untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. (Matius 20:28; Ibrani 9:14) Oleh karena itu, kita memandang darah Yesus sebagai perkara yang suci, ”berharga”.—1 Petrus 1:19.

6. Bagaimana sikap kita terhadap Kristus Yesus, dan mengapa?
6 Untuk memperlihatkan bahwa kita sangat merespek Raja dan Imam Besar kita, Kristus Yesus, rasul Paulus menulis, ”Allah meninggikan [Putra-Nya] kepada kedudukan yang lebih tinggi dan dengan baik hati memberinya nama di atas setiap nama lain, sehingga dengan nama Yesus semua harus bertekuk lutut, yaitu mereka yang berada di surga, di bumi, dan di bawah tanah, dan setiap lidah harus mengakui secara terbuka bahwa Yesus Kristus adalah Tuan bagi kemuliaan Allah, sang Bapak.” (Filipi 2:9-11) Kita mempertunjukkan bahwa kita memiliki pandangan seperti Allah terhadap perkara-perkara suci apabila kita dengan sukacita menundukkan diri kepada Pemimpin dan Raja kita yang berkuasa, Kristus Yesus, Kepala atas sidang Kristen.—Matius 23:10; Kolose 1:18.

7. Bagaimana kita memperlihatkan ketundukan kepada Kristus?
7 Ketundukan kepada Kristus juga mencakup memperlihatkan respek yang sepatutnya kepada pria-pria yang ia gunakan untuk mengawasi pekerjaan yang sedang ia arahkan dewasa ini. Peranan kaum terurap yang menjadi anggota Badan Pimpinan dan peranan para pengawas yang mereka lantik di berbagai kantor cabang, distrik, wilayah, dan sidang hendaknya dipandang sebagai tanggung jawab suci. Jadi, kita harus memperlihatkan respek yang dalam dan ketundukan terhadap pengaturan ini.—Ibrani 13:7, 17.

Bangsa yang Kudus

8, 9. (a) Mengapa orang Israel adalah umat yang kudus? (b) Bagaimana Allah menandaskan prinsip kesucian kepada orang Israel?
8 Allah mengadakan perjanjian dengan Israel. Melalui hubungan ini, bangsa yang baru itu mendapat kedudukan yang istimewa. Mereka disucikan, atau dipisahkan. Allah sendiri memberi tahu mereka, ”Kamu harus menjadi kudus bagiku, karena aku, Allah, adalah kudus; dan aku memisahkan kamu dari bangsa-bangsa untuk menjadi milikku.”—Imamat 19:2; 20:26.

9 Persis pada saat bangsa Israel dibentuk, Allah menandaskan prinsip kesucian kepada orang Israel. Mereka bahkan tidak boleh menyentuh gunung tempat Sepuluh Perintah diberikan, yang kalau dilanggar bisa berakibat hukuman mati. Kala itu, Gunung Sinai bisa dipandang suci. (Keluaran 19:12, 23) Keimaman, tabernakel, dan perabotannya juga harus dipandang suci. (Keluaran 30:26-30) Bagaimana situasinya di sidang Kristen?

10, 11. Mengapa dapat dikatakan bahwa sidang jemaat orang Kristen yang terurap itu suci, dan apa pengaruh hal ini atas ”domba-domba lain”?
10 Sidang jemaat orang Kristen yang terurap itu suci di mata Allah. (1 Korintus 1:2) Malah, segenap kelompok orang Kristen terurap di bumi pada saat kapan pun disamakan dengan bait kudus, meskipun mereka bukan bait rohani agung Allah. Allah mendiami bait tersebut melalui roh kudus-Nya. Rasul Paulus menulis, ”Dalam persatuan dengan [Kristus Yesus] seluruh bangunan, karena telah dipersatukan secara harmonis, bertumbuh menjadi bait kudus bagi Allah. Dalam persatuan dengan dia, kamu juga dibangun menjadi tempat yang Allah diami dalam roh.”—Efesus 2:21, 22; 1 Petrus 2:5, 9.

11 Paulus selanjutnya menulis kepada orang Kristen terurap, ”Tidak tahukah kamu bahwa kamu sekalian adalah bait Allah, dan bahwa roh Allah tinggal dalam kamu? . . . Bait Allah itu kudus, bait tersebut adalah kamu sekalian.” (1 Korintus 3:16, 17) Dengan perantaraan roh-Nya, Allah ”berdiam” di antara kaum terurap dan ”berjalan di antara mereka”. (2 Korintus 6:16) Ia senantiasa membimbing ’budak-Nya’ yang setia. (Matius 24:45-47) ”Domba-domba lain” sangat menghargai hak istimewa mereka untuk dipersatukan dengan golongan bait itu.—Yohanes 10:16; Matius 25:37-40.

Perkara-Perkara Suci dalam Kehidupan Kristen Kita

12. Hal apa saja yang suci dalam kehidupan kita, dan mengapa?
12 Tidak mengherankan bahwa ada banyak hal yang dipandang suci yang berkaitan dengan kehidupan para anggota terurap sidang Kristen dan rekan-rekan mereka. Hubungan kita dengan Allah adalah perkara suci. (1 Tawarikh 28:9; Mazmur 36:7) Sedemikian berharganya hal itu sehingga kita tidak membiarkan apa pun dan siapa pun melemahkan hubungan kita dengan Allah kita, Allah. (2 Tawarikh 15:2; Yakobus 4:7, 8) Doa mempunyai peranan penting untuk mempertahankan hubungan yang akrab dengan Allah. Sedemikian sucinya doa bagi nabi Daniel sehingga sekalipun kehidupannya terancam, ia tetap setia menjalankan kebiasaannya berdoa kepada Allah. (Daniel 6:7-11) ”Doa orang-orang kudus”, atau orang Kristen terurap, disamakan dengan dupa dalam ibadat di bait. (Penyingkapan 5:8; 8:3, 4; Imamat 16:12, 13) Simbolisme ini menandaskan kesucian doa. Sungguh besar hak istimewa bisa berkomunikasi dengan Pribadi yang Berdaulat di alam semesta! Tidak mengherankan bahwa doa merupakan hal suci dalam kehidupan kita!

13. Kekuatan apa yang kudus, dan bagaimana kita hendaknya membiarkan kekuatan itu bekerja dalam kehidupan kita?
13 Ada sebuah kekuatan dalam kehidupan orang Kristen terurap dan rekan-rekan mereka yang benar-benar suci bagi mereka—roh kudus. Roh itu adalah tenaga aktif Allah, dan karena roh itu selalu bekerja selaras dengan kehendak Allah yang kudus, roh itu dengan tepat disebut ”roh kudus”, atau ”roh kekudusan”. (Yohanes 14:26; Roma 1:4) Melalui roh kudus, Allah memberi hamba-hamba-Nya kekuatan untuk memberitakan kabar baik. (Kisah 1:8; 4:31) Allah memberikan roh-Nya kepada ”orang-orang yang menaati dia sebagai penguasa”, mereka yang ’terus berjalan dengan roh’, bukan menurut keinginan daging. (Kisah 5:32; Galatia 5:16, 25; Roma 8:5-8) Kekuatan yang ampuh ini memungkinkan orang Kristen menghasilkan ”buah roh”—sifat-sifat yang bagus—serta ”bertingkah laku kudus dan melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pengabdian yang saleh”. (Galatia 5:22, 23; 2 Petrus 3:11) Jika kita menganggap roh kudus itu suci, kita menghindari tindakan apa pun yang dapat mendukakan roh itu, atau menghalanginya bekerja dalam kehidupan kita.—Efesus 4:30.

14. Hak istimewa apa yang kaum terurap pandang suci, dan bagaimana hak istimewa ini juga dinikmati oleh domba-domba lain?
14 Hak istimewa kita menyandang nama Allah yang kudus, Allah, dan menjadi Saksi-Saksi-Nya adalah perkara lain yang kita pandang suci. (Yesaya 43:10-12, 15) Allah telah membuat orang-orang Kristen terurap cakap ”untuk menjadi pelayan dari suatu perjanjian baru”. (2 Korintus 3:5, 6) Sebagai pelayan, mereka diamanatkan untuk memberitakan ”kabar baik kerajaan ini” dan ’membuat orang-orang dari segala bangsa menjadi murid’. (Matius 24:14; 28:19, 20) Mereka dengan setia mengemban amanat ini, dan jutaan orang seperti domba menyambut, secara simbolis mengatakan kepada kaum terurap, ”Kami mau pergi bersama kamu sekalian, karena kami telah mendengar bahwa Allah menyertai kamu sekalian.” (Zakharia 8:23) Orang-orang ini dengan bersukacita melayani dalam pengertian rohani sebagai ”petani” dan ’tukang kebun anggur’ bagi ”pelayan-pelayan [yang terurap dari] Allah kita”. Dengan cara itu, domba-domba lain memberikan bantuan besar kepada kaum terurap dalam melaksanakan pelayanan mereka di seluruh dunia.—Yesaya 61:5, 6.

15. Kegiatan apa yang rasul Paulus pandang suci, dan mengapa kita memiliki pandangan yang sama?
15 Rasul Paulus, seperti banyak orang lainnya, menganggap pelayanan kepada umum sebagai sesuatu yang suci, atau kudus. Ia menyebut dirinya ”hamba Kristus Yesus untuk umum, yaitu bagi bangsa-bangsa, sibuk dalam pekerjaan kudus sehubungan dengan kabar baik Allah”. (Roma 15:16) Sewaktu menulis kepada orang Kristen di Korintus, Paulus menyebut pelayanannya sebagai ”harta”. (2 Korintus 4:1, 7) Melalui pelayanan kita kepada umum, kita menyampaikan ”pernyataan suci dari Allah”. (1 Petrus 4:11) Oleh karena itu, bagi kita, tidak soal dari kaum terurap atau dari domba-domba lain, ikut serta dalam pekerjaan memberikan kesaksian merupakan hak istimewa yang suci.

”Menyempurnakan Kekudusan dengan Takut akan Allah”

16. Apa yang akan membantu kita agar tidak menjadi orang-orang yang ”tidak menghargai perkara-perkara suci”?
16 Rasul Paulus memperingatkan rekan-rekan Kristennya agar tidak menjadi orang-orang yang ”tidak menghargai perkara-perkara suci”. Sebaliknya, ia menasihati mereka agar ’mengejar kesucian’, ”menjaga dengan cermat . . . agar akar beracun tidak tumbuh dan menimbulkan keresahan dan banyak orang dicemarkan olehnya”. (Ibrani 12:14-16) Ungkapan ”akar beracun” memaksudkan segelintir orang dalam sidang Kristen yang mungkin suka mengkritik pengaturan tertentu. Misalnya, mereka mungkin tidak sepandangan dengan Allah tentang kesucian perkawinan atau perlunya kebersihan moral. (1 Tesalonika 4:3-7; Ibrani 13:4) Atau, mereka mungkin ikut membahas atau menyebarkan gagasan murtad, ”percakapan-percakapan kosong yang mencemari apa yang kudus”, yang dilontarkan oleh mereka yang ”telah menyimpang dari kebenaran”.—2 Timotius 2:16-18.

17. Mengapa kaum terurap perlu senantiasa mengerahkan upaya untuk mencerminkan pandangan Allah tentang kekudusan?
17 Kepada saudara-saudara terurapnya, Paulus menulis, ”Saudara-saudara yang kami kasihi, . . . biarlah kita membersihkan diri dari setiap pencemaran daging dan roh, menyempurnakan kekudusan dengan takut akan Allah.” (2 Korintus 7:1) Pernyataan ini memperlihatkan bahwa orang Kristen terurap, ”yang mengambil bagian dalam panggilan surgawi”, harus senantiasa mengerahkan upaya untuk membuktikan bahwa mereka mencerminkan pandangan Allah tentang kekudusan dalam semua aspek kehidupan mereka. (Ibrani 3:1) Demikian pula, rasul Petrus mendesak saudara-saudaranya yang diperanakkan roh, ”Sebagai anak-anak yang taat, berhentilah dibentuk menurut keinginan yang kamu miliki sebelumnya sewaktu kamu kurang pengetahuan, tetapi, sesuai dengan Pribadi Kudus yang memanggilmu, hendaklah kamu juga menjadi kudus dalam seluruh tingkah lakumu.”—1 Petrus 1:14, 15.

18, 19. (a) Bagaimana para anggota ”kumpulan besar” memperlihatkan bahwa mereka memiliki pandangan seperti Allah terhadap perkara-perkara suci? (b) Corak suci lain apa dalam kehidupan Kristen kita akan diulas dalam artikel berikut?
18 Bagaimana dengan para anggota ”kumpulan besar”, yang akan selamat melewati ”kesengsaraan besar”? Mereka pun harus membuktikan bahwa mereka memiliki pandangan seperti Allah tentang perkara-perkara suci. Dalam buku Penyingkapan, mereka digambarkan memberi Allah ”dinas suci” di halaman bait rohani-Nya, yakni di bumi. Mereka telah beriman pada korban tebusan Kristus, secara simbolis ”mencuci jubah mereka dan membuatnya putih dalam darah Anak Domba”. (Penyingkapan 7:9, 14, 15) Dengan demikian, mereka memiliki kedudukan yang bersih di hadapan Allah dan juga wajib ”membersihkan diri [mereka] dari setiap pencemaran daging dan roh, menyempurnakan kekudusan dengan takut akan Allah”.

19 Sebuah corak penting dalam kehidupan orang Kristen terurap dan rekan-rekan mereka adalah berhimpun secara teratur untuk menyembah Allah dan mempelajari Firman-Nya. Bagi Allah, pertemuan umat-Nya adalah perkara suci. Artikel berikut akan mengulas bagaimana dan mengapa kita mesti memiliki pandangan seperti Allah terhadap perkara-perkara suci dalam bidang yang penting ini.

Source : http://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/2006804

Apakah Kekudusan Itu?


Apakah Kekudusan Itu?

4, 5. (a) Apa yang dimaksud dengan kekudusan, dan apa yang tidak dimaksudkannya? (b) Dalam dua arti penting apa Yahwe ”terpisah”?
4 Kenyataan bahwa Allah adalah kudus tidak berarti bahwa Ia sombong, angkuh, atau memandang hina orang lain. Sebaliknya, Ia membenci sifat-sifat itu. (Amsal 16:5; Yakobus 4:6) Jadi, apa arti kata ”kudus” yang sesungguhnya? Dalam bahasa Ibrani Alkitab, kata yang diterjemahkan ”kudus” berasal dari istilah yang berarti ”terpisah”. Dalam ibadat, kata ”kudus” diterapkan pada sesuatu yang dipisahkan dari penggunaan secara umum, atau dianggap suci. Kekudusan juga dengan tandas mengandung gagasan kebersihan dan kemurnian. Bagaimana kata tersebut berlaku bagi Yahwe? Apakah berarti Ia ”terpisah” dari manusia yang tidak sempurna, sangat jauh dari kita?

5 Sama sekali tidak. Sebagai ”Pribadi Kudus Israel”, Yahwe menggambarkan diri-Nya berdiam ”di tengah-tengah” umat-Nya, meskipun mereka berdosa. (Yesaya 12:6; Hosea 11:9) Jadi, kekudusan-Nya tidaklah menjauhkan Dia dari kita. Kalau begitu, bagaimana Ia ”terpisah”? Dalam dua arti penting. Pertama-tama, Ia terpisah dari semua ciptaan dalam arti bahwa Dialah sajalah Yang Mahatinggi. Kemurnian dan kebersihan-Nya mutlak dan abadi. (Mazmur 40:5; 83:18) Kedua, Yahwe sepenuhnya terpisah dari segala dosa, dan fakta ini melegakan kita. Mengapa?

6. Mengapa kita dapat merasa lega karena keterpisahan Yahwe yang mutlak dari dosa?
6 Kita hidup di suatu dunia tempat kekudusan sejati merupakan hal yang langka. Segala sesuatu yang menyangkut masyarakat manusia yang terasing dari Allah telah tercemar dengan satu atau lain cara, ternoda oleh dosa dan ketidaksempurnaan. Kita semua harus berperang melawan dosa dalam diri kita. Dan, kita semua berada dalam bahaya untuk dikalahkan oleh dosa jika kita lengah. (Roma 7:15-25; 1 Korintus 10:12) Yahwe tidak berada dalam bahaya seperti itu. Karena sepenuhnya bebas dari dosa, Ia tidak pernah dinodai oleh dosa sekecil apa pun. Hal itu menegaskan kembali penilaian kita tentang Yahwe sebagai Bapak yang ideal, karena hal tersebut membuat Ia dapat diandalkan sepenuhnya. Tidak seperti banyak ayah manusia yang berdosa, Yahwe tidak akan pernah menjadi bejat, amoral, atau kejam. Karena kudus, Ia sama sekali tidak mungkin melakukan hal-hal itu. Pada saat-saat tertentu Yahwe bahkan bersumpah demi kekudusan-Nya sendiri, karena itulah yang membuat sumpah-Nya benar-benar dapat dipercaya. (Amos 4:2) Bukankah fakta itu sangat menenteramkan hati?

7. Mengapa dapat dikatakan bahwa kekudusan tidak dapat dipisahkan dari pribadi Yahwe?
7 Kekudusan tidak dapat dipisahkan dari pribadi Yahwe. Apa artinya hal itu? Sebagai ilustrasi: Pertimbangkanlah kata ”manusia” dan ”ketidaksempurnaan”. Saudara tidak dapat bercerita tentang manusia tanpa berpikir tentang ketidaksempurnaan. Ketidaksempurnaan menyatu dalam diri kita dan mewarnai setiap tindakan kita. Sekarang, perhatikan kedua kata yang sangat berbeda ini—”Yahwe” dan ”kudus”. Kekudusan menyatu dalam diri Yahwe. Segala sesuatu dalam diri-Nya bersih, murni, dan lurus. Kita tidak dapat benar-benar mengenal Yahwe tanpa menyelami kata yang penuh makna ini—”kudus”.

”Yahwe Adalah Kudus”

8, 9. Apa yang menunjukkan bahwa Yahwe membantu manusia yang tak sempurna untuk menjadi kudus dalam arti yang relatif?
8 Karena Yahwe adalah manifestasi dari kekudusan, Ia layak disebut sebagai sumber segala kekudusan. Ia tidak mementingkan diri, menahan sifat yang berharga ini bagi diri-Nya sendiri; Ia memberikan sifat ini kepada orang lain, dan memberikannya dengan murah hati. Bahkan, sewaktu Allah berbicara kepada Musa melalui seorang malaikat di sebuah semak yang bernyala, tanah di sekelilingnya menjadi kudus karena kaitannya dengan Yahwe!—Keluaran 3:5.

9 Dapatkah manusia yang tak sempurna menjadi kudus dengan bantuan Yahwe? Ya, dalam arti yang relatif. Allah memberi umat-Nya Israel prospek untuk menjadi ”suatu bangsa yang kudus”. (Keluaran 19:6) Ia memberkati bangsa itu dengan suatu sistem ibadat yang kudus, bersih, murni. Oleh karena itu, kekudusan merupakan tema yang muncul berulang kali dalam Hukum Musa. Bahkan, imam besar mengenakan sebuah lempeng emas di bagian depan serbannya, sehingga semua orang dapat melihatnya berkilauan dalam terang. Di situ terukir kata-kata, ”Yahwe adalah Kudus.” (Keluaran 28:36) Dengan demikian, suatu standar yang tinggi dalam hal kebersihan dan kemurnian membedakan ibadat mereka dan, sesungguhnya, jalan hidup mereka. Yahwe memberi tahu mereka, ”Kamu harus menjadi kudus, karena aku Yahwe, Allahmu, kudus.” (Imamat 19:2) Selama orang Israel hidup selaras dengan nasihat Allah sesuai dengan kesanggupan mereka sebagai manusia yang tidak sempurna, mereka kudus dalam arti yang relatif.

10. Sehubungan dengan kekudusan, kontras apa yang ada antara Israel zaman dahulu dan bangsa-bangsa di sekelilingnya?
10 Penitikberatan pada kekudusan ini sangat kontras dengan ibadat bangsa-bangsa di sekeliling Israel. Bangsa-bangsa kafir tersebut menyembah allah-allah yang keberadaannya hanyalah suatu kebohongan dan kepalsuan belaka, para allah yang digambarkan bersifat bengis, tamak, dan berganti-ganti pasangan. Mereka tidak kudus dalam semua segi. Beribadat kepada allah-allah semacam itu menjadikan orang tidak kudus. Oleh karena itu, Yahwe memperingatkan hamba-hamba-Nya untuk memisahkan diri dari orang kafir dan praktek-praktek agama mereka yang tercemar.—Imamat 18:24-28; 1 Raja 11:1, 2.

11. Bagaimana kekudusan organisasi surgawi Yahwe nyata pada (a) para malaikat? (b) para serafim? (c) Yesus?
11 Bahkan dalam keadaannya yang terbaik pun, bangsa pilihan Yahwe, Israel zaman dahulu, hanya dapat memberikan gambaran yang samar-samar mengenai kekudusan organisasi surgawi Allah. Jutaan makhluk roh yang dengan loyal melayani Allah disebut sebagai ”berlaksa-laksa pribadi kudusnya”. (Ulangan 33:2; Yudas 14) Mereka dengan sempurna mencerminkan keindahan yang murni dan cemerlang dari kekudusan Allah. Dan, ingatlah para serafim yang dilihat Yesaya dalam penglihatannya. Isi nyanyian mereka memperlihatkan bahwa makhluk-makhluk roh yang perkasa ini memainkan peranan penting dalam memperkenalkan kekudusan Yahwe di seluruh alam semesta. Akan tetapi, ada satu makhluk roh yang lebih tinggi dari mereka—satu-satunya Putra Allah yang diperanakkan. Yesus adalah cerminan tertinggi dari kekudusan Allah. Sudah sepantasnya jika ia dikenal sebagai ”Yang Kudus dari Allah”.—Yohanes 6:68, 69.

Mengapa menghujat roh kudus merupakan dosa yang sangat serius?

Mengapa menghujat roh kudus merupakan dosa yang sangat serius?
14. Mengapa roh Allah disebut kudus, dan mengapa menghujat roh kudus merupakan dosa yang sangat serius?
14 Ada satu lagi yang erat kaitannya dengan Yehuwa, sesuatu yang selalu disebut kudus—roh-Nya, atau tenaga aktif-Nya. (Kejadian 1:2) Yehuwa menggunakan tenaga yang tak ada tandingannya ini untuk melaksanakan maksud-tujuan-Nya. Semua yang Allah lakukan, Ia jalankan dengan cara yang kudus, murni, dan bersih, sehingga tenaga aktif-Nya dengan tepat dinamakan roh kudus, atau roh kekudusan. (Lukas 11:13; Roma 1:4) Menghujat roh kudus, yang berarti bertindak menentang maksud-tujuan Yehuwa dengan sengaja, dianggap sebagai dosa yang tak terampuni.Markus 3:29.
Source : http://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/1102002024

Roh Kudus

Kudus Nama-Nya, Kudus Roh-Nya

12, 13. (a) Mengapa nama Allah dengan tepat dikatakan kudus? (b) Mengapa nama Allah harus disucikan?
12 Bagaimana dengan nama Allah sendiri? Seperti yang kita lihat di Pasal 1, nama itu bukan sekadar gelar atau label. Nama tersebut mencerminkan Allah Yehuwa, mencakup semua sifat-Nya. Oleh karena itu, Alkitab memberi tahu kita bahwa ”namanya kudus”. (Yesaya 57:15) Menurut Hukum Musa, mencemari nama Allah dianggap sebagai pelanggaran dengan hukuman mati. (Imamat 24:16) Dan, perhatikan apa yang Yesus sebut sebagai pokok yang paling utama untuk didoakan, ”Bapak kami yang di surga, biarlah namamu disucikan.” (Matius 6:9) Menyucikan sesuatu berarti memisahkannya sebagai sesuatu yang suci dan menyanjungnya, menjunjungnya sebagai sesuatu yang kudus. Namun, mengapa sesuatu yang pada hakikatnya murni seperti nama Allah masih perlu disucikan?
13 Nama kudus Allah telah dikecam, dinodai dengan dusta dan fitnah. Di Eden, Setan berdusta mengenai Yehuwa dan menyiratkan bahwa Ia adalah Penguasa yang tidak adil. (Kejadian 3:1-5) Sejak saat itu, Setan—penguasa dunia yang tidak kudus ini—telah memastikan agar dusta mengenai Allah semakin berlipat ganda. (Yohanes 8:44; 12:31;Penyingkapan 12:9) Agama-agama menggambarkan Allah sebagai pribadi yang sewenang-wenang, dingin, atau kejam. Mereka mengaku memiliki dukungan-Nya dalam perang-perang mereka yang haus darah. Mereka tidak mau mengakui kegiatan penciptaan Allah yang menakjubkan tetapi mengatakan bahwa semuanya terjadi secara kebetulan, atau karena evolusi. Ya, nama Allah telah difitnah dengan kejam. Nama itu harus disucikan; kemuliaannya yang sebenarnya harus dipulihkan. Kita merindukan penyucian nama-Nya dan pembenaran kedaulatan-Nya, dan kita senang untuk menjalankan peran apa pun dalam maksud-tujuan yang agung tersebut.
14. Mengapa roh Allah disebut kudus, dan mengapa menghujat roh kudus merupakan dosa yang sangat serius?
14 Ada satu lagi yang erat kaitannya dengan Yehuwa, sesuatu yang selalu disebut kudus—roh-Nya, atau tenaga aktif-Nya. (Kejadian 1:2) Yehuwa menggunakan tenaga yang tak ada tandingannya ini untuk melaksanakan maksud-tujuan-Nya. Semua yang Allah lakukan, Ia jalankan dengan cara yang kudus, murni, dan bersih, sehingga tenaga aktif-Nya dengan tepat dinamakan roh kudus, atau roh kekudusan. (Lukas 11:13; Roma 1:4) Menghujat roh kudus, yang berarti bertindak menentang maksud-tujuan Yehuwa dengan sengaja, dianggap sebagai dosa yang tak terampuni.Markus 3:29.
Source : http://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/1102002024

Dipecat dari sidang Kristen karena terlibat dalam kenajisan


Pertanyaan Pembaca
Dapatkah seseorang dipecat dari sidang Kristen karena terlibat dalam kenajisan sebagaimana jika dia melakukan percabulan atau tingkah laku bebas?
Ya, seseorang dapat dikeluarkan dari sidang jika dia dengan tidak bertobat mempraktekkan entah itu percabulan, bentuk kenajisan dalam taraf tertentu, ataupun tingkah laku bebas. Rasul Paulus menyebut ketiga dosa tersebut bersama dengan pelanggaran lainnya yang dapat menyebabkan pemecatan sewaktu dia menulis, ”Perbuatan daging nyata, dan ini adalah percabulan, kenajisan, tingkah laku bebas . . . Aku memperingatkan kamu sebelumnya . . . bahwa orang yang mempraktekkan hal-hal demikian tidak akan mewarisi kerajaan Allah.”Galatia 5:19-21.
Percabulan (Yunani, por·neiʹa) memaksudkan hubungan seks yang tidak sah di luar perkawinan menurut Alkitab. Hal itu mencakup perzinaan, pelacuran, hubungan seks di antara orang-orang yang belum menikah, hubungan seks melalui mulut dan anus, serta merangsang alat kelamin orang lain yang bukan teman hidupnya demi kepuasan seks. Orang yang mempraktekkan percabulan dan tidak bertobat bukanlah bagian dari sidang Kristen.
Tingkah laku bebas (Yunani, a·selʹgei·a) berarti ”ketidaksenonohan; sikap semaunya sendiri; tingkah laku memalukan; tingkah laku cabul”. The New Thayer’s Greek-English Lexicon mendefinisikan istilah Yunani itu sebagai ”hawa nafsu yang tak terkendali, . . . sangat mengejutkan, tidak tahu malu, suka menghina”. Menurut kamus lainnya, tingkah laku bebas merupakan suatu bentuk perilaku yang ”melanggar semua batas kesopanan umum”.
Seperti yang diperlihatkan oleh definisi tersebut, ”tingkah laku bebas” mencakup dua unsur: (1) Tingkah laku itu sendiri merupakan pelanggaran serius terhadap hukum Allah, dan (2) sikap si pelaku kesalahan yang tidak memperlihatkan respek dan menghina.
Oleh karena itu, ”tingkah laku bebas” bukan memaksudkan tingkah laku buruk yang sifatnya sepele. Istilah itu berkaitan dengan tindakan yang merupakan pelanggaran serius terhadap hukum Allah dan yang mencerminkan sikap tidak tahu malu atau menghina yang berani—semangat yang menyingkapkan sikap tidak merespek atau bahkan menghina wewenang, hukum, dan standar. Paulus menghubungkan tingkah laku bebas dengan hubungan seks yang tidak sah. (Roma 13:13, 14) Karena Galatia 5:19-21mencantumkan tingkah laku bebas bersama sejumlah praktek dosa yang mengakibatkan seseorang tidak memenuhi syarat untuk mewarisi Kerajaan Allah, tingkah laku bebas merupakan dasar bagi seseorang untuk ditegur dan kemungkinan dipecat dari sidang Kristen.
Kenajisan (Yunani, a·ka·thar·siʹa) mengandung makna yang paling luas dari ketiga istilah yang diterjemahkan menjadi ”percabulan”, ”kenajisan”, dan ”tingkah laku bebas”. Istilah itu mencakup segala bentuk kecemaran—dalam perkara-perkara seksual, dalam tutur kata, dalam perbuatan, dan dalam hubungan rohani. ”Kenajisan” mencakup beragam dosa serius.
Seperti dicatat di 2 Korintus 12:21, Paulus menyebut orang-orang yang ”sebelumnya berbuat dosa tetapi tidak bertobat atas kenajisan dan percabulan dan tingkah laku bebas yang mereka praktekkan”. Karena ”kenajisan” disebut bersama dengan ”percabulan dan tingkah laku bebas”, beberapa bentuk kenajisan sepatutnya dikenai tindakan pengadilan. Tetapi, istilah kenajisan luas artinya dan mencakup hal-hal yang bukan masalah pengadilan. Sama seperti sebuah rumah bisa disebut agak kotor atau sama sekali jorok, kenajisan juga ada tingkatannya.
Menurut Efesus 4:19, Paulus mengatakan bahwa ada orang-orang yang ”tidak memiliki perasaan moral” dan bahwa ”mereka menyerahkan diri kepada tingkah laku bebas untuk melakukan setiap jenis kenajisan dengan tamak”. Jadi, Paulus menempatkan praktek ”kenajisan dengan tamak” dalam kategori yang sama dengan tingkah laku bebas. Jika seseorang yang sudah dibaptis dengan tidak bertobat mempraktekkan ”kenajisan dengan tamak”, dia dapat dipecat dari sidang atas dasar kenajisan yang menjijikkan.
Andaikan sepasang pria dan wanita yang sudah bertunangan beberapa kali bercumbu-cumbuan dengan cara yang terlalu mesra dan membangkitkan nafsu. Para penatua boleh jadi memutuskan bahwa meskipun pasangan itu tidak memperlihatkan sikap tidak tahu malu yang mencirikan tingkah laku bebas, ada unsur ketamakan dalam tingkah laku mereka. Jadi, para penatua bisa mengambil tindakan pengadilan karena kenajisan yang menjijikkan tersangkut. Kenajisan yang menjijikkan bisa juga menjadi dasar yang patut dalam menangani kasus menyangkut seseorang yang berulang kali mengadakan telepon seks yang terang-terangan dengan orang lain, terutama jika dia sebelumnya telah dinasihati mengenai hal itu.
Para penatua membutuhkan daya pengamatan dalam membuat pertimbangan demikian. Untuk menentukan apakah tindakan pengadilan sepatutnya diambil, mereka harus dengan saksama memperhatikan apa yang sesungguhnya telah terjadi dan sejauh mana perbuatan itu dilakukan. Hal itu bukan soal menuduhkan tingkah laku bebas kepada seseorang yang menolak nasihat Alkitab; juga, bukan soal sekadar memutuskan berdasarkan perhitungan matematis seberapa sering orang itu melakukan perbuatan dosa tertentu sebelum tindakan pengadilan dibutuhkan. Para penatua hendaknya dengan hati-hati dan sungguh-sungguh menimbang setiap situasi dan mencari tahu apa yang terjadi dan seberapa sering, jenis dan jangkauan perbuatan salah itu, dan tujuan serta motif si pelaku kesalahan.
Kenajisan yang menjijikkan tidak terbatas hanya pada dosa-dosa seksual. Misalnya, seorang anak terbaptis boleh jadi telah beberapa kali merokok selama jangka waktu yang singkat dan mengaku kepada orang tuanya. Ia berjanji tidak akan merokok lagi. Ini juga kenajisan, namun belum meningkat sampai taraf kenajisan yang menjijikkan atau ”kenajisan dengan tamak”. Nasihat Alkitab dari satu atau dua orang penatua disertai dukungan dari orang tua anak itu sudah memadai. Tetapi, jika anak itu sudah sering merokok, hal ini merupakan pencemaran daging yang disengaja, dan panitia pengadilan perlu dibentuk untuk memeriksa kasus kenajisan yang menjijikkan ini. (2 Korintus 7:1) Jika anak itu tidak bertobat, ia akan dipecat.
Beberapa orang Kristen telah terlibat dalam menonton pornografi. Hal ini menyakitkan hati Allah, dan para penatua boleh jadi terkejut bahwa seorang rekan seiman telah melakukan hal ini. Tetapi, tidak semua perbuatan menonton pornografi perlu diperiksa di hadapan panitia pengadilan. Misalnya, andaikan seorang saudara telah beberapa kali menonton apa yang disebut pornografi ringan. Dia sangat malu, mengaku kepada seorang penatua, dan bertekad untuk tidak mengulangi lagi dosa ini. Penatua boleh jadi menyimpulkan bahwa tingkah laku saudara itu belum meningkat ke taraf perbuatan ”kenajisan dengan tamak; dia juga tidak memperlihatkan sikap tidak tahu malu, yang menunjukkan tingkah laku bebas. Meskipun tidak ada tindakan pengadilan yang diambil, bentuk kenajisan seperti ini memerlukan nasihat Alkitab yang keras dan mungkin bantuan lebih lanjut dari para penatua.
Namun, andaikan selama bertahun-tahun dan secara diam-diam, seorang Kristen telah menonton pornografi yang menjijikkan yang tergolong perbuatan seksual yang bejat dan telah berupaya sedapat mungkin untuk menyembunyikan dosa ini. Bisa jadi yang ditonton termasuk pemerkosaan ramai-ramai, pembelengguan rekan hubungan seks, penyiksaan yang sadis, perlakuan brutal terhadap wanita, atau bahkan pornografi anak-anak. Sewaktu perbuatannya ini diketahui orang lain, dia benar-benar malu. Dia tidak bersikap tidak tahu malu, tetapi para penatua mungkin memutuskan bahwa dia telah ’menyerahkan dirinya’ kepada kebiasaan yang kotor, dan telah mulai mempraktekkan ”kenajisan dengan tamak”, yakni kenajisan yang menjijikkan. Panitia pengadilan akan dibentuk karena kenajisan yang menjijikkan tersangkut di sini. Si pelaku kesalahan akan dipecat jika dia tidak memperlihatkan pertobatan yang saleh dan tekad untuk tidak akan pernah menonton pornografi lagi. Seandainya dia mengundang orang lain ke rumahnya untuk menonton pornografi—dengan kata lain, mempromosikannya—hal ini membuktikan sikap tidak tahu malu yang mencirikan tingkah laku bebas.
Istilah Alkitab ”tingkah laku bebas” selalu menyangkut dosa serius, biasanya dosa seksual. Sewaktu berupaya menentukan tingkah laku bebas, para penatua perlu melihat adanya sikap tidak tahu malu, sikap semaunya sendiri, kenajisan, keberanian yang hina, dan apa yang mengejutkan bagi kesopanan umum. Sebaliknya, pelanggaran serius terhadap hukum Yehuwa yang dilakukan oleh seseorang yang tidak memperlihatkan sikap tidak tahu malu boleh jadi menyangkut unsur ”ketamakan”. Kasus-kasus demikian hendaknya ditangani atas dasar kenajisan yang menjijikkan yang tersangkut.
Menentukan apakah seseorang telah bertindak sedemikian jauh sehingga bersalah karena kenajisan yang menjijikkan atau tingkah laku bebas merupakan tanggung jawab yang serius, karena kehidupan tersangkut. Mereka yang menangani kasus demikian perlu memikirkannya dengan sungguh-sungguh, memohon kepada Allah untuk memberikan roh kudus-Nya, daya pengamatan, dan pengertian. Para penatua perlu mempertahankan kemurnian sidang dan pertimbangan mereka harus benar-benar berdasarkan Firman Allah serta pengarahan dari ”budak yang setia dan bijaksana”. (Matius 18:18; 24:45) Dan, terlebih lagi sekarang, pada hari-hari yang jahat ini, para penatua perlu mencamkan kata-kata ini, ”Perhatikanlah apa yang kamu lakukan, sebab bukan untuk manusia kamu menghakimi tetapi untuk Yehuwa.”2 Tawarikh 19:6.

Mendekatlah kepada Allah ”Aku Yehuwa, Allahmu, Kudus”

Mendekatlah kepada Allah
”Aku Yahwe, Allahmu, Kudus”
”KUDUS, kudus, kuduslah Allah Yahwe” (Penyingkapan [Wahyu] 4:8) Dengan kata-kata itu, Alkitab menjelaskan bahwa Yahwe kudus, juga murni dan bersih, sampai tingkat tertinggi. Allah sepenuhnya terpisah dari dosa; Ia tidak dapat dicemari atau dinodai oleh dosa dengan cara apa pun. Apakah ini berarti tidak ada harapan bagi manusia yang tidak sempurna untuk bisa menjalin hubungan yang akrab dengan Allah yang maha kudus? Tentu saja tidak! Mari kita membahas kata-kata berisi harapan yang dicatat di Imamat pasal 19.
Yahwe memberi tahu Musa, ”Berbicaralah kepada seluruh himpunan putra-putra Israel.” Kata-kata berikutnya ditujukan kepada setiap orang dari bangsa itu. Apa yang Musa beritahukan kepada mereka? Allah melanjutkan, ”Engkau harus mengatakan kepada mereka, ’Kamu harus menjadi kudus, karena aku Yahwe, Allahmu, kudus.’” (Ayat 2) Setiap orang Israel harus mempertunjukkan kekudusan. Kata ”kamu harus” memperlihatkan bahwa ini bukan saran melainkan perintah. Apakah Allah meminta sesuatu yang mustahil?
Perhatikan bahwa Yahwe menyebutkan kekudusannya sendiri, bukan sebagai suatu standar yang harus dicapai, melainkan sebagai alasan di balik perintah itu. Dengan kata lain, Yahwe tidak memberi tahu para penyembah-Nya yang tidak sempurna di Israel untuk menjadi kudus seperti Dia. Hal itu tentu mustahil. Yahwe, ”Pribadi Yang Mahakudus”, lebih unggul dibandingkan semua makhluk lain dalam hal kekudusan. (Amsal 30:3) Namun, karena Yahwe kudus, Ia mengharapkan para penyembah-Nya untuk menjadi kudus—yaitu, hingga taraf yang masuk akal bagi manusia yang tidak sempurna. Dengan cara bagaimana mereka bisa membuktikan diri kudus?
Setelah memberikan perintah untuk menjadi kudus, Yahwe melalui Musa menguraikan berbagai persyaratan yang menyangkut setiap aspek kehidupan. Setiap orang Israel diharapkan untuk menaati standar tingkah laku seperti: mempertunjukkan respek yang patut terhadap orang tua dan orang lain yang lebih tua (ayat 332); bertimbang rasa terhadap orang tuli, buta, dan orang lain yang menderita (ayat 9, 1014); bersikap jujur dan tidak berat sebelah dalam berurusan dengan orang lain (ayat 11-131535, 36); dan mengasihi rekan seiman seperti dirinya sendiri. (Ayat 18) Dengan berpegang pada hal-hal ini dan standar lain yang disebutkan, orang Israel bisa ”benar-benar menjadi kudus bagi Allah [mereka]”.—Bilangan 15:40.
Dengan mengetahui perintah mengenai kekudusan, kita memiliki pemahaman yang bernilai tentang cara berpikir dan keinginan Allah Yahwe. Sebagai contoh, kita belajar bahwa untuk memiliki hubungan yang akrab dengan Allah, kita perlu berupaya sebisa-bisanya untuk hidup selaras dengan standar tingkah laku-Nya yang kudus. (1 Petrus 1:15, 16) Dengan berpegang pada standar-standar itu, kita bisa menikmati jalan hidup yang terbaik.—Yesaya 48:17.
Perintah untuk menjadi kudus juga mencerminkan keyakinan Yahwe kepada para penyembah-Nya. Yahwe tidak pernah menuntut lebih banyak daripada yang bisa kita lakukan. (Mazmur 103:13, 14) Ia tahu bahwa kita sebagai manusia, yang dibuat menurut gambar-Nya, memiliki potensi alami untuk memupuk kekudusan—setidaknya dalam arti yang relatif. (Kejadian 1:26) Apakah Anda tergerak untuk belajar lebih banyak tentang caranya mendekat kepada Allah yang kudus, Yahweh

Source : http://wol.jw.org/id/wol/d/r25/lp-in/2009484

Upayakanlah ”Kekudusan dengan Takut akan Allah”

Upayakanlah ”Kekudusan dengan Takut akan Allah”
UNTUK menggambarkan kekudusan Allah Yehuwa pada tingkat tertinggi, Alkitab menyatakan, ”Kudus, kudus, kuduslah Yehuwa.” (Yes. 6:3; Pny. 4:8) Kata Ibrani dan Yunani untuk ”kekudusan” menyampaikan gagasan kebersihan atau kemurnian agama, terpisah dari kecemaran. Kekudusan Allah memaksudkan kesempurnaan moral-Nya yang mutlak.
Tidakkah Allah yang kudus, Yehuwa, mengharapkan orang-orang yang beribadat kepada-Nya kudus, yaitu bersih secara jasmani, moral, dan rohani? Dengan kata-kata yang sangat gamblang, Alkitab menunjukkan bahwa Yehuwa ingin umat-Nya kudus. Kita membaca di1 Petrus 1:16, ”Kamu harus kudus, karena aku kudus.” Dapatkah manusia yang tidak sempurna benar-benar meniru kekudusan Yehuwa? Ya, meski tidak dalam arti sepenuhnya. Kita bisa dianggap kudus di hadapan Allah jika kita beribadat kepada-Nya dalam keadaan rohani yang bersih dan memiliki hubungan yang akrab dengan-Nya.
Maka, bagaimana kita bisa menjaga diri bersih dalam dunia yang tidak bersih secara moral ini? Perbuatan apa saja yang harus kita hindari? Apa saja yang mungkin perlu kita ubah sehubungan dengan tutur kata dan tingkah laku kita? Mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari tentang hal ini dari tuntutan Allah terhadap orang Yahudi yang kembali dari Babilon ke tanah air mereka pada tahun 537 SM.
’Di Sana Akan Ada Jalan Raya Kekudusan’
Yehuwa menubuatkan bahwa umat-Nya yang berada di pembuangan di Babilon akan kembali ke tanah air mereka. Nubuat tentang pemulihan itu memuat jaminan ini, ”Di sana akan ada suatu jalan raya, ya, suatu jalan; dan itu akan dinamai Jalan Kekudusan.” (Yes. 35:8a) Kata-kata tersebut menunjukkan bahwa Yehuwa tidak hanya membuka jalan bagi orang Yahudi untuk pulang tetapi meyakinkan mereka akan perlindungan-Nya sepanjang jalan.
Bagi hamba-hamba-Nya di bumi pada zaman modern, Yehuwa membuka ”Jalan Kekudusan” untuk keluar dari Babilon Besar, imperium agama palsu sedunia. Pada tahun 1919, Ia membebaskan orang-orang Kristen terurap dari belenggu agama palsu, dan mereka secara progresif membersihkan ibadat mereka dari segala ajaran palsu. Dewasa ini, sebagai penyembah Yehuwa, kita menikmati lingkungan rohani yang bersih, tenteram, tempat kita dapat beribadat kepada Yehuwa dan memiliki hubungan yang penuh damai dengan Dia dan sesama.
Anggota ”kawanan kecil” orang Kristen terurap dan ”kumpulan besar” yang terus bertambahdari ”domba-domba lain” telah dipilih untuk berjalan di jalan yang kudus dan mereka mengundang orang lain untuk bergabung dengan mereka. (Luk. 12:32; Pny. 7:9; Yoh. 10:16) ”Jalan Kekudusan” terbuka bagi semua orang yang rela ”mempersembahkan tubuh [mereka] sebagai korban yang hidup, kudus, diperkenan Allah”.Rm. 12:1.
”Orang Najis Tidak Akan Melewatinya”
Pada tahun 537 SM, orang Yahudi yang kembali harus memenuhi suatu persyaratan penting. Mengenai mereka yang memenuhi syarat untuk berjalan di ”Jalan Kekudusan”,Yesaya 35:8b menyatakan, ”Orang najis tidak akan melewatinya. Itu disediakan bagi orang yang mengikuti jalan itu, dan orang bodoh tidak akan mengembara di sana.” Karena tujuan orang Yahudi kembali ke Yerusalem adalah untuk memulihkan ibadat murni, maka tidak boleh ada orang yang punya motif mementingkan diri, yang tidak merespek perkara-perkara suci, atau yang najis secara rohani. Orang-orang yang kembali perlu mempertahankan standar moral Yehuwa yang luhur. Orang-orang yang menginginkan perkenan Allah dewasa ini pun perlu memenuhi tuntutan yang sama. Mereka harus mengupayakan ”kekudusan dengan takut akan Allah”. (2 Kor. 7:1) Maka, perbuatan najis apa saja yang harus kita hindari?
”Perbuatan daging nyata,” tulis rasul Paulus, ”dan ini adalah percabulan, kenajisan, tingkah laku bebas.” (Gal. 5:19) Percabulan adalah semua perbuatan seks yang melibatkan penggunaan alat kelamin di luar ikatan perkawinan. Tingkah laku bebas berkaitan dengan ”ketidaksenonohan; sikap semaunya sendiri; tingkah laku memalukan; tingkah laku cabul”. Percabulan maupun tingkah laku bebas jelas bertentangan dengan kekudusan Yehuwa. Karena itu, orang yang tetap mempraktekkan hal-hal tersebut tidak diizinkan menjadi bagian dari sidang Kristen atau dipecat darinya. Begitu pula dengan orang yang mempraktekkan kenajisan yang menjijikkan, yakni, ’setiap jenis kenajisan yang tamak’.Ef. 4:19.
”Kenajisan” adalah istilah yang mencakup beragam dosa. Kata Yunaninya memaksudkan segala bentuk kecemaran atau kekotoran—dalam tingkah laku, dalam tutur kata, dan dalam hal yang berkaitan dengan ibadat. Itu termasuk berbagai perbuatan najis yang hingga taraf tertentu mungkin tidak sampai harus dikenai tindakan pengadilan.* Tetapi, apakah orang yang mempraktekkan kenajisan semacam itu mengejar haluan kekudusan?
Anggaplah seorang Kristen diam-diam mulai melihat pornografi. Sedikit demi sedikit, seraya hasrat yang najis terbangkitkan, tekadnya untuk tetap bersih di hadapan Yehuwa dirongrong. Sikapnya mungkin belum sampai berkembang menjadi kenajisan yang menjijikkan, tetapi ia tidak lagi memikirkan ’perkara apa pun yang murni, yang patut dibicarakan, yang bajik, dan yang patut dipuji’. (Flp. 4:8) Pornografi itu najis dan tentu saja merusak hubungan seseorang dengan Allah. Setiap jenis kenajisan disebut saja pun jangan di antara kita.Ef. 5:3.
Perhatikan contoh lain. Katakanlah seorang Kristen melakukan masturbasi—sengaja merangsang dirinya sendiri untuk menimbulkan kenikmatan seksual—tidak soal disertai dengan pornografi atau tidak. Meskipun istilah ”masturbasi” tidak muncul dalam Alkitab, sudah jelas bahwa hal itu merupakan perbuatan yang cemar secara mental dan emosi. Bukankah terus melakukan kecemaran seperti itu sangat merusak hubungan seseorang dengan Yehuwa dan membuatnya najis dalam pandangan Allah? Mari kita camkan peringatan dari rasul Paulus untuk ”membersihkan diri dari setiap pencemaran daging dan roh” dan ”[mematikan] anggota-anggota tubuh [kita] yang bersifat duniawi sehubungan dengan percabulan, kenajisan, nafsu seksual, keinginan yang mencelakakan, dan keinginan akan milik orang lain”.2 Kor. 7:1; Kol. 3:5.
Dunia yang dikuasai oleh Setan ini mentoleransi tingkah laku najis, bahkan menganjurkannya. Bisa jadi, sulit sekali menolak godaan untuk terlibat dalam perilaku najis. Tetapi, orang Kristen sejati tidak boleh ”berjalan seperti bangsa-bangsa, menurut pikiran mereka yang tidak mendatangkan keuntungan”. (Ef. 4:17) Jika kita menghindari tingkah laku najis, yang sembunyi-sembunyi maupun yang terang-terangan, barulah Yehuwa akan mengizinkan kita untuk terus berjalan di ”Jalan Kekudusan”.
”Tidak Akan Ada Singa di Sana”
Untuk menikmati perkenan Allah yang kudus, Yehuwa, beberapa orang bisa jadi harus membuat perubahan radikal dalam tingkah laku dan tutur kata. Yesaya 35:9 menyatakan, ”Tidak akan ada singa di sana, dan binatang buas yang rakus tidak muncul di situ,” yaitu, di ”Jalan Kekudusan”. Secara kiasan, orang yang tindakan serta tutur katanya beringas dan kejam disamakan dengan binatang buas. Mereka pasti tidak akan diperbolehkan untuk tinggal dalam dunia baru Allah yang adil-benar. (Yes. 11:6; 65:25) Karena itu, penting sekali bagi orang yang menginginkan perkenan Allah untuk membuang perangai seperti binatang buas tersebut dan mengejar haluan kekudusan.
”Biarlah semua kebencian dan kemarahan dan murka dan teriakan serta cacian disingkirkan darimu, beserta semua keburukan,” Alkitab memperingatkan kita. (Ef. 4:31) Di Kolose 3:8, kita membaca, ”Singkirkan itu semua dari dirimu, kemurkaan, kemarahan, hal-hal yang buruk, cacian, dan perkataan cabul dari mulutmu.” Ungkapan ”cacian” yang digunakan di dua ayat ini pada dasarnya memaksudkan perkataan yang mencelakakan, merendahkan, atau hujah.
Dewasa ini, tutur kata yang menyakitkan dan vulgar sudah menjadi begitu lumrah, bahkan di rumah. Pasangan suami istri melontarkan kata-kata yang menusuk, kejam, atau merendahkan terhadap satu sama lain dan terhadap anak-anak mereka. Sikap garang secara lisan seperti ini tidak boleh ada di rumah tangga Kristen.1 Kor. 5:11.
Mengupayakan ”Kekudusan dengan Takut akan Allah”—Suatu Berkat!
Sungguh suatu hak istimewa untuk melayani Allah yang kudus, Yehuwa! (Yos. 24:19) Betapa berharganya firdaus rohani yang telah Yehuwa wujudkan bagi kita. Menjaga tingkah laku kita tetap kudus dalam pandangan Yehuwa adalah jalan hidup yang terbaik.
Janji Allah mengenai firdaus di bumi akan segera menjadi kenyataan. (Yes. 35:1, 2, 5-7) Orang-orang yang mendambakannya dan yang terus mengejar haluan yang saleh akan diberkati dengan mendapat tempat tinggal di sana. (Yes. 65:17, 21) Maka, di atas segalanya, marilah kita terus beribadat kepada Allah dalam keadaan rohani yang bersih dan mempertahankan hubungan yang akrab dengan-Nya.
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India