
Apakah Kekudusan Itu?
4, 5. (a) Apa yang dimaksud dengan kekudusan, dan apa yang tidak dimaksudkannya? (b) Dalam dua arti penting apa Yahwe ”terpisah”?
4 Kenyataan bahwa Allah adalah kudus tidak berarti bahwa Ia sombong, angkuh, atau memandang hina orang lain. Sebaliknya, Ia membenci sifat-sifat itu. (Amsal 16:5; Yakobus 4:6) Jadi, apa arti kata ”kudus” yang sesungguhnya? Dalam bahasa Ibrani Alkitab, kata yang diterjemahkan ”kudus” berasal dari istilah yang berarti ”terpisah”. Dalam ibadat, kata ”kudus” diterapkan pada sesuatu yang dipisahkan dari penggunaan secara umum, atau dianggap suci. Kekudusan juga dengan tandas mengandung gagasan kebersihan dan kemurnian. Bagaimana kata tersebut berlaku bagi Yahwe? Apakah berarti Ia ”terpisah” dari manusia yang tidak sempurna, sangat jauh dari kita?
5 Sama sekali tidak. Sebagai ”Pribadi Kudus Israel”, Yahwe menggambarkan diri-Nya berdiam ”di tengah-tengah” umat-Nya, meskipun mereka berdosa. (Yesaya 12:6; Hosea 11:9) Jadi, kekudusan-Nya tidaklah menjauhkan Dia dari kita. Kalau begitu, bagaimana Ia ”terpisah”? Dalam dua arti penting. Pertama-tama, Ia terpisah dari semua ciptaan dalam arti bahwa Dialah sajalah Yang Mahatinggi. Kemurnian dan kebersihan-Nya mutlak dan abadi. (Mazmur 40:5; 83:18) Kedua, Yahwe sepenuhnya terpisah dari segala dosa, dan fakta ini melegakan kita. Mengapa?
6. Mengapa kita dapat merasa lega karena keterpisahan Yahwe yang mutlak dari dosa?
6 Kita hidup di suatu dunia tempat kekudusan sejati merupakan hal yang langka. Segala sesuatu yang menyangkut masyarakat manusia yang terasing dari Allah telah tercemar dengan satu atau lain cara, ternoda oleh dosa dan ketidaksempurnaan. Kita semua harus berperang melawan dosa dalam diri kita. Dan, kita semua berada dalam bahaya untuk dikalahkan oleh dosa jika kita lengah. (Roma 7:15-25; 1 Korintus 10:12) Yahwe tidak berada dalam bahaya seperti itu. Karena sepenuhnya bebas dari dosa, Ia tidak pernah dinodai oleh dosa sekecil apa pun. Hal itu menegaskan kembali penilaian kita tentang Yahwe sebagai Bapak yang ideal, karena hal tersebut membuat Ia dapat diandalkan sepenuhnya. Tidak seperti banyak ayah manusia yang berdosa, Yahwe tidak akan pernah menjadi bejat, amoral, atau kejam. Karena kudus, Ia sama sekali tidak mungkin melakukan hal-hal itu. Pada saat-saat tertentu Yahwe bahkan bersumpah demi kekudusan-Nya sendiri, karena itulah yang membuat sumpah-Nya benar-benar dapat dipercaya. (Amos 4:2) Bukankah fakta itu sangat menenteramkan hati?
7. Mengapa dapat dikatakan bahwa kekudusan tidak dapat dipisahkan dari pribadi Yahwe?
7 Kekudusan tidak dapat dipisahkan dari pribadi Yahwe. Apa artinya hal itu? Sebagai ilustrasi: Pertimbangkanlah kata ”manusia” dan ”ketidaksempurnaan”. Saudara tidak dapat bercerita tentang manusia tanpa berpikir tentang ketidaksempurnaan. Ketidaksempurnaan menyatu dalam diri kita dan mewarnai setiap tindakan kita. Sekarang, perhatikan kedua kata yang sangat berbeda ini—”Yahwe” dan ”kudus”. Kekudusan menyatu dalam diri Yahwe. Segala sesuatu dalam diri-Nya bersih, murni, dan lurus. Kita tidak dapat benar-benar mengenal Yahwe tanpa menyelami kata yang penuh makna ini—”kudus”.
”Yahwe Adalah Kudus”
8, 9. Apa yang menunjukkan bahwa Yahwe membantu manusia yang tak sempurna untuk menjadi kudus dalam arti yang relatif?
8 Karena Yahwe adalah manifestasi dari kekudusan, Ia layak disebut sebagai sumber segala kekudusan. Ia tidak mementingkan diri, menahan sifat yang berharga ini bagi diri-Nya sendiri; Ia memberikan sifat ini kepada orang lain, dan memberikannya dengan murah hati. Bahkan, sewaktu Allah berbicara kepada Musa melalui seorang malaikat di sebuah semak yang bernyala, tanah di sekelilingnya menjadi kudus karena kaitannya dengan Yahwe!—Keluaran 3:5.
9 Dapatkah manusia yang tak sempurna menjadi kudus dengan bantuan Yahwe? Ya, dalam arti yang relatif. Allah memberi umat-Nya Israel prospek untuk menjadi ”suatu bangsa yang kudus”. (Keluaran 19:6) Ia memberkati bangsa itu dengan suatu sistem ibadat yang kudus, bersih, murni. Oleh karena itu, kekudusan merupakan tema yang muncul berulang kali dalam Hukum Musa. Bahkan, imam besar mengenakan sebuah lempeng emas di bagian depan serbannya, sehingga semua orang dapat melihatnya berkilauan dalam terang. Di situ terukir kata-kata, ”Yahwe adalah Kudus.” (Keluaran 28:36) Dengan demikian, suatu standar yang tinggi dalam hal kebersihan dan kemurnian membedakan ibadat mereka dan, sesungguhnya, jalan hidup mereka. Yahwe memberi tahu mereka, ”Kamu harus menjadi kudus, karena aku Yahwe, Allahmu, kudus.” (Imamat 19:2) Selama orang Israel hidup selaras dengan nasihat Allah sesuai dengan kesanggupan mereka sebagai manusia yang tidak sempurna, mereka kudus dalam arti yang relatif.
10. Sehubungan dengan kekudusan, kontras apa yang ada antara Israel zaman dahulu dan bangsa-bangsa di sekelilingnya?
10 Penitikberatan pada kekudusan ini sangat kontras dengan ibadat bangsa-bangsa di sekeliling Israel. Bangsa-bangsa kafir tersebut menyembah allah-allah yang keberadaannya hanyalah suatu kebohongan dan kepalsuan belaka, para allah yang digambarkan bersifat bengis, tamak, dan berganti-ganti pasangan. Mereka tidak kudus dalam semua segi. Beribadat kepada allah-allah semacam itu menjadikan orang tidak kudus. Oleh karena itu, Yahwe memperingatkan hamba-hamba-Nya untuk memisahkan diri dari orang kafir dan praktek-praktek agama mereka yang tercemar.—Imamat 18:24-28; 1 Raja 11:1, 2.
11. Bagaimana kekudusan organisasi surgawi Yahwe nyata pada (a) para malaikat? (b) para serafim? (c) Yesus?
11 Bahkan dalam keadaannya yang terbaik pun, bangsa pilihan Yahwe, Israel zaman dahulu, hanya dapat memberikan gambaran yang samar-samar mengenai kekudusan organisasi surgawi Allah. Jutaan makhluk roh yang dengan loyal melayani Allah disebut sebagai ”berlaksa-laksa pribadi kudusnya”. (Ulangan 33:2; Yudas 14) Mereka dengan sempurna mencerminkan keindahan yang murni dan cemerlang dari kekudusan Allah. Dan, ingatlah para serafim yang dilihat Yesaya dalam penglihatannya. Isi nyanyian mereka memperlihatkan bahwa makhluk-makhluk roh yang perkasa ini memainkan peranan penting dalam memperkenalkan kekudusan Yahwe di seluruh alam semesta. Akan tetapi, ada satu makhluk roh yang lebih tinggi dari mereka—satu-satunya Putra Allah yang diperanakkan. Yesus adalah cerminan tertinggi dari kekudusan Allah. Sudah sepantasnya jika ia dikenal sebagai ”Yang Kudus dari Allah”.—Yohanes 6:68, 69.


16.40
Supplier Buku-Buku Rohani
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar